Cerpen, Romance, DanmogotDrama, Danmogot

Rahasia Kecil Untuk Sebuah Alasan


Rahasia Kecil Untuk Sebuah Alasan

Lagi-lagi hari ini aku harus menemaninya ke pesta pernikahan sahabatnya. Aku mengeluh pelan membaca Whatsapp dari Pak Bob, Direktur di tempat aku bekerja sekarang. Terbayang wajah Pak Bob di pelupuk mataku. Sudah empat bulan aku bekerja dengannya, dering tanda pesan masuk membuyarkan lamunanku. Aku membacanya. Dari Pak Bob, siapa lagi yang rajin mengirim pesan kepada ku selain bosku yang over posesif ini.

Tanpa ku sadari aku menarik nafas panjang. Rasanya ribet sekali terlibat dengan lelaki yang kita sendiri tidak tahu apa maunya. Untungnya di sini semua karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jadi tidak ada yang sempat bergosip atau segala macam, tidak ada juga yang memperhatikan aktifitasku. Aku mengambil tas-ku. Beranjak meninggalkan kantor.

***

Aku tiba di parkiran Mall yang terletak tidak jauh dari kantor. Untunglah masih ada tempat kosong untuk mobil mungilku ini. Ah, sebenarnya ini bukan mobilku, ini mobil perusahaan, sebagai sekretaris aku diberikan fasilitas kendaraaan. Terkadang ada rasa janggal juga di hati, apa memang benar, sekretaris mendapatkan fasilitas yang kupunyai sekarang?

Akhirnya tiba juga aku di cafe tempat aku dan Pak Bob janjian untuk ketemu. Dari jauh kulihat sosoknya yang menawan, perlahan mulai menghampiriku. “Sudah makan Put?” tanya Pak Bob begitu dia duduk di kursi kosong di depanku, matanya tak beranjak dari layar ipadnya

Sengaja pertanyaannya tidak kujawab. Pak Bob mengangkat wajah. Memandangku sambil mengernyit dahi.

“Makan hati,” jawabku pedas.

Tawa Pak Bob meledak, aku makin cemberut. Ya, walau sebenarnya kami ini bos dan karyawan, tapi karena kami dulu adalah teman lama, aku bisa bebas mau bercanda atau marah padanya saat berada diluar kantor.

“Aku juga belum makan nih,” kata Bob.

“Habis makan kita ke butik Mbak Ines ya,” katanya. Aku hanya mengangguk, semua dia yang mengatur.

Aku mencoba beberapa gaun pesta untuk kupakai nanti malam. Sebisa mungkin aku memilih gaun yang sopan tapi elegan. Aku bukanlah gadis metropolitan asli, aku berasal dari daerah. Setelah mendapat gaun yang kuinginkan, aku memilih sepatu hak tinggi, dan clutch bag untuk dipadukan dengan gaun yang akan kupakai nanti.

Aku melirik Bobby, yang ternyata sedari tadi terus memperhatikanku.

“Kapan nih mau nikahnya?” tanya Mbak Ines sambil tersenyum manis.

Pertanyaan Mbak Ines tak jelas ditujukan pada aku atau Pak Bob. Yang jelas, aku memilih diam.

“Ya, entar juga nyampe undangannya ke Mbak,” jawab Pak Bob sambil mengedipkan matanya.

 “Berapa semua Mbak?” tanya Pak Bob.

Ini bukanlah kali pertama ia membelikanku gaun karya disainer terkenal, atau tas dan sepatu branded, tapi tetap aja aku belum terbiasa dengan harganya yang sama dengan biaya hidupku berbulan-bulan.

“Bob mahal sekali gaunnya,” kataku setelah di mobil menuju ke kantor.

“Tidak mungkin aku membawamu ke pesta dengan celana jeans kan Put, lagian anggap aja itu hadiah karena udah nemani aku.”

Hatiku berdesir. Empat bulan yang lalu kami kembali bertemu, setelah hampir lima tahun tak ada kabar. Teman semasa remajaku yang kini menjadi atasan ku di kantor. Cinta pertamaku yang mungkin sampai sekarang belum berubah.

Aku memandang lurus ke depan untuk berusaha menutupi debaran di hatiku.

***bersambung***


Artikel Terkait

Viewer : 65