Cerita2D, Cerbung, Romance, Metropop

Office Romance (Final Episode)


Office Romance (Final Episode)

B.O.B
Ini ibarat gue mau beli kopi Starbucks favorit gue, tapi sebenarnya gue belum pengen minum kopi, karena saat haus, yang gue cari selalu air putih.
 
Moza
TGIF. Aku selalu suka hari Jum’at. Alasannya, karena besok libur kerja dan di hari Jumat malam, biasanya aku dan Ben pergi hunting makanan enak, buat membahagiakan diri setelah pusing dengan urusan kantor selama lima hari. ‘Let’s Get Orgasmic!’ sebutan yang diberikan Ben untuk kebiasaan kami ini yang udah ada sejak kami masih bertugas di kantor cabang Surabaya. Dulu malah hunting makanan enaknya bertiga, bareng Danu juga, walaupun setelah balik ke Jakarta, ya cuma aku dan Ben yang melakukannya.
     Biasanya sebelum pergi hunting, masing-masing dari kita udah punya satu tempat rekomendasi. Referensinya kita dapatkan dari segala sumber, food info di Instagram, review dari temen-temen sampai Zomato. Tapi walaupun udah mendatangi dua atau tiga tempat, kadang nggak ketemu juga makanan yang bisa muasin lidah.
     “Malam ini gue nggak orgasmic,” ujar Ben sambil mengunyah makanan dari suapan terakhirnya. “dari awal makan rasanya flat, nggak ada sensasinya, nggak klimaks.” Lalu dia tertawa nakal. Danu juga terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Sementara gue, mencoba menahan diri untuk nggak mencabe’i mulutnya Ben karna udah ngomong sembarangan di tempat umum. Bikin malu aja.
 
 
Danu
Sebenarnya gue lagi nunggu apa ya? Dulu sewaktu masih bertugas di Surabaya, gue nunggu untuk bisa balik ke sini supaya bisa bertemu dia lagi tiap hari. Sekarang saat gue udah di sini, yang walaupun bakal hanya enam bulan, gue jadi ragu untuk mengungkapkannya ke dia karena nantinya pun dia bakal gue tinggalin lagi.
     “Dan? Kamu udah turun ternyata.” Gue terkejut karena Moza tiba-tiba muncul, untung aja dia nggak bisa dengar dialog batin gue tadi. Lalu Moza berjalan mendekat ke arah pintu utama gedung di lantai satu.
     “Aku kira kamu masih di ruangan, kamu kan sekarang pulang kantornya selalu belakangan, Boss wanna be...” ucapnya jahil.
     Aku tersenyum.“Apaan sih Za, kamu kan juga udah jadi Bos.”
     “Ahhh.. Bos apaan kalo anak buahnya cuma beberapa orang, bos magang tuh namanya Dan.”
     “Si Ben mana Za? Bukannya biasanya kalian barengan?”
     “Iya tadi turunnya barengan, terus udah sampe lantai satu dia baru ingat kalo kunci mobilnya ketinggalan di ruangannya. Jadi dia balik lagi deh. Ohh iya, ini kan mumpung kamu pulangnya cepat nih, ikut kita yuk Dan, hunting makanan, get orgasmic.” Ajaknya sambil tertawa jahil setelah menyebutkan kata ‘orgasmic’.
     Aku juga tertawa, “Masih aja ya kalian ternyata? Tiap Jum’at malam?”
     “Sebenarnya udah dua kali hari Jumat belakangan ini kita nggak pergi Dan, Ben akhir-akhir ini sibuk, ada project gitu, ini juga aku belum bilang ke Ben sih kalo mau hunting malam ini.”
     “Ohh ya? Aku pikir kalian kerjanya masih barengan..”
     Moza menggeleng. “Udah jarang Dan, sekarang malah Ben per proyek kerja sendiri, paling cuma dibantu freelancer. Lama-lama dia nyusul kamu tuh, terus aku ditinggal sendiri.”
I’m not gonna leave you Za, gue emang bakal pindah ke kantor cabang Bali enam bulan lagi, tapi, will you come with me?
     “Tapi aku nggak bisa deh kayaknya malam ini Za, aku besok ada workshop dan aku harus prepare untuk nyiapkan bahannya malam ini. Next Friday deh ya Za?”
     “ohh, oke Dan nggak papa.” Jawabnya.
     Kayaknya gue nggak bisa buang-buang waktu lagi, ke depannya malah gue nggak bakal punya cukup waktu untuk menikmati atau pun memikirkan tentang serious relationship.
     “Za,”
Moza lalu menoleh ke arahku, masih sambil menenggak air dari botol minumnya.
     “Kenapa Dan?” Tanyanya sambil menutup botol.
     Gue bingung gimana memulainya, awalnya malah gue menelan ludah. “This is will be a serious thing, so listen carefully okay, dont you ever consider this as a joke.”
     “Okay.” Jawabnya singkat sambil menatapku penasaran.
     “Za, selama satu setengah tahun aku di Surabaya, nggak satu hari pun aku nggak rindu kamu. Aku selalu menoleh ke arah meja kerja di cubicle kamu dulu di sana, aku selalu ingat kamu udah duduk manis serius menatap monitor.”
     Moza tersenyum dan tatapannya hangat mengingat masa-masa kami bekerja di Surabaya.
     “Aku senang saat kita ketemu lagi, cara kamu memperlakukan aku nggak berubah sedikit pun. Aku nggak mau nantinya aku merasakan rindu yang seperti itu lagi Za, rindu yang walaupun nanti sampai di kamu, tapi mungkin nggak kamu balas, rindu yang nggak jelas.  Aku bakalan menetap lama di Bali Za, so, send your resignation letter and marry me?
 
Gita
Ini kesalahan banget. Harusnya tadi aku langsung pulang aja, nggak perlu ikutan lembur, dan aku nggak bakal tau kejadian ini. Sekarang pun aku masih berdiri terpaku di dekat pot tanaman hias-yang aku bahkan nggak tau namanya-yang berada di dekat pintu utama, dan sengaja menguping percakapan mas Danu & mbak Moza. ini juga karena tadi bertemu Ben di dalam lift.
     “Eh, Ta, bentar deh.” Ketika tiba di lantai dasar, Ben yang lebih dulu keluar dari lift, mengisyaratkanku untuk menghentikan langkah saat melihat mas Danu & mbak Moza, lalu aku ikut berdiri menunggu, mendengar kata-kata mas Danu tentang kerinduannya saat nggak bertemu dengan mbak Moza. I never though this things will make me sad, berarti beneran kan aku suka mas Danu?
 
Moza
I’m flattered. Seriously. Danu, with his words he says, is kinda sweet. His sudden proposal, sanggup bikin mata gue berkaca-kaca. Tapi yang bikin gue lebih sedih lagi, adalah hati gue, which is not into him.
     Gue tersenyum, “Dan, makasih ya.” Lalu kulihat Danu masih memberiku tatapan penuh harap. “I never expect this. Tapi, maaf banget Dan, it’s not you.”
     Danu mengalihkan pandangannya ke objek lain, kemudian kembali menatatapku. “Maaf kalo mungkin caraku memperlakukan kamu, atau perhatian yang aku kasi ke kamu, bikin kamu salah paham. I do care about you, nggak ada yang salah Dan, hanya saja, bukan kamu orangnya. It’s not you that I expect to give me such a sweet words, dia...., Dia Beni Dan.”
 
B.O.B
Gue? are you fucking serious Za?
     Moza has a crush on me? Fuck, kemana aja lo selama ini Ben? Ini Moza lho, yang udah bareng-bareng sama lo selama empat tahun, dan lo nggak tau ini? Za, lo itu udah jadi yang paling dekat dengan  gue, sampe gue nggak bisa liat lo dan nggak menyadari semua ini.  Gue langsung spontan menoleh ke Gita yang juga ngeliat gue, dia nggak dengar yang gue ucapin dalam hati barusan kan?
 
Danu
No wonder. Gue udah menduga ini sebelumnya, bahkan sejak kami masih di Surabaya dulu. Moza & Ben are just like dynamic duo, perfect match to be together, gue juga sempat menyangka pasti mereka punya hubungan khusus sebelum gue tau kalo Ben naksir Gita.
     Gue memeluknya selama beberapa detik, gue ngerasa kalo si lucky bastard Ben itu nggak tau tentang perasaan Moza.
     “I’m sorry Dan, ” Bisiknya ke gue.
     “It’s Okay.”
     “No hurt feeling?” Tanyanya.
Aku melepas pelukanku, lalu menggeleng. “Nggak papa Za, seenggaknya aku udah bilang ke kamu, dan gak bertanya-tanya lagi gimana jawabannya. No hurt feeling.”
 
B.O.B
“Mo, sori ya gue lama, nggak ketemu kunci mobil gue. beneran lupa deh gue tuh kunci terakhir kalinya gue letakin di mana. Gue nebeng lo aja deh ya pulangnya.” Ucap gue yang kemudian berjalan mendekati mereka berdua dan sengaja diam-diam menjatuhkan kunci mobil gue ke dalam pot tanaman hias yang ada di lobi utama. Gita pun ikut menghampiri.
     Gue liat Moza agak sedikit terkejut dengan kemunculan gue dan Gita, lalu dia mengusap-usap matanya yang agak berkaca-kaca.
     “Sini kunci mobil lo, biar gue aja yang nyetir.”
Tanpa bicara apa-apa, Moza langsung menyerahkan kunci mobil yang dia ambil dari dalam tote bagnya.
     “Jalan sekarang nih?” tanya gue ke dia dan hanya dijawab dengan anggukan.
     “eh Dan, lo pulang ke arah Kemang kan? Bisa dong si Gita barengan lo aja, searah deh kayaknya jalan pulangnya.”
     Danu mengangguk. “Yaudah, Ta, bareng aku aja.” Ajaknya ke Gita, dan gue liat pun Gita mengangguk mau.
 
Moza
It is awkward moment, isn’t it? Atau cuma aku aja yang merasa awkward? Udah sepuluh menit kami di dalam mobilku ini, dan tumben banget si Ben dari tadi anteng aja nggak ngomong apa-apa. Ini sih kalo aku juga diem aja bakal aneh. Harusnya aku bersikap normal aja kayak biasa.
     “Ben, mau langsung pulang nih? Yakin nggak mau ‘get orgasmic’ dulu?” Tanyaku dengan senyuman jahil seperti biasa.
     Ben tertawa sebentar, lalu menoleh tersenyum ke arahku dan menghentikan laju mobil karena lampu merah di persimpangan jalan telah menyala. Aku masih ikut tertawa, namun Ben hanya tersenyum, bukan senyumannya yang biasa, namun kali ini ia tersenyum penuh arti, dan matanya seolah berbicara, namun aku tak mengerti maknanya.
     “Mo,” Panggilnya.
     “Ya?”
     “Gue ingin air putih.”
     Kuserahkan botol minum yang dari tadi kupegang, lalu Ben menenggak habis isinya.
     Kemudian ia mengembalikan botol minumku. Aku menerimanya lalu ia memegang tanganku, “Makasih ya Mo,” dan entah kenapa aku ngerasa dia berterimakasih bukan untuk air minum yang telah kuberikan. Ia kembali tersenyum, the smile that really warms my heart. Lalu dia berbelok ke arah lain saat lampu hijau menyala, bukan ke arah jalan pulang.
     Aku menoleh ke arahnya, “Let’s get orgasmic.” Ujarnya.
Aku terkekeh akhirnya, yeah, Ben, just back being a fucking jerk that love.
 
END

Artikel Terkait

Viewer : 117