Cerita 2D, Danmogot Drama, Cerpen

Me Before You Eps 1


Me Before You Eps 1

Seorang wanita sedang memilih-milih baju dengan gaya angkuhnya.

Kembali pelayan itu dengan sabar melayani pelanggan yang sedikit galak ini, namun selalu tak ada respon yang enak dari pelanggan tersebut.

"Bruukk.."

Pelanggan itu terjatuh kembali untuk kesekian kalinya di butik ini, kembali pelayan itu membantunya berdiri.

“Nona, kau baik-baik saja?” Ucap pelayan itu yang sama sekali tak direspon pelanggan tersebut.

“Nona, pacar anda sudah menunggu lebih dari tiga jam yang lalu, apakah baik-baik saja?” Ucap pelayan itu.

“Apa hak mu mengurusi urusan pribadiku, huh!”

“Maaf” Ucap pelayan itu menunduk.

“Baiklah, bungkus semua itu” Suruh pelanggan itu masih dengan suara tinggi. Semua barang-barang yang dibelinya sudah berada di tanggannya, sekitar enam kantong besar.

"Brukk.."  Wanita itu kembali terjatuh lagi, kembali dibantu bangkit oleh pelayan tersebut.

Wanita itu keluar dari butik tersebut kemudian melihat kearah kanan, di sana terparkir sebuah mobil yang menunggunya. Kaca depan mobil itu berlahan turun dan tampaklah seorang pria tampan di dalamnya.

 “Aku tidak butuh wanita kasar, matre dan manja sepertimu” Ucap pria itu dingin, lalu meninggalkan wanita itu sendiri.

Wanita tersebut akhirnya pulang sendiri berteman malam yang dingin .

“Nadya, Apa yang kau lakukan disini?” Tanya seorang wanita yang sekarang di hadapannya.

“Aku diperjalanan ingin pulang” Ucap Nadya.

“Dini hari seperti ini? dan kau juga menangis?” Ucap wanita itu lagi

“Aku hanya takut sendirian di jalan yang tak kukenal ini” Ucap Nadya masih dengan gaya sok dan cueknya.

“Apa Bobby  tak menjemputmu?” Tanya wanita itu lagi

“Aku muak dengannya, kami putus”

Wanita bernama Santi itupun mengikuti Nadya dari belakang, kemudian matanya menatap panggul celana Eunrin yang kotor, kemudian ia pun menepuk panggul temannya itu berniat ingin membersihkannya.

“Yahh! ada apa denganmu, celanamu kotor seperti ini” Celoteh Santi

‘Brukkkk...’ Nadya kembali terjatuh dengan sendirinya.

“Yak! Ada apa denganmu?” Tanya Santi cemas

Santi kembali membantu Nadya berdiri.

“Kembalilah sana, rumahku sudah dekat” Ucap Nadya

“Kalau kau jatuh lagi” Ucap Santi

“Tidak akan, hanya sebentar lagi” Kata Nadya. Sekarang Nadya sudah berada di persimpanggan rumahnya, sekitar tiga rumah lagi sampai. Namun ia kembali terjatuh.

“Nadya....” Seorang pria berada di depannya dengan tatapan cemas. Secepatnya pria itu membantu Nadya untuk berdiri.

“Kau dari mana, Huh?” Ucap pria itu. Nadya hanya menatap sinis pada pria tersebut.

“Kenapa kerjaanmu selalu membuat semua orang cemas, huh?” Ucap pria itu tak dapat mengontrol emosinya

“Siapa yang memintamu untuk mencemaskanku, Bobby” Ucap Nadya itu tak kalah tajamnya

“Kenapa kau mencariku? Bukankah kamu yang meningalkan ku tadi? "

“Aku tak mencemaskanmu, kalau aku mencemaskanmu aku tidak akan meninggalkanmu, aku hanya kasihan kepada Bi Inem yang menelponku dengan cemas mengatakan kamu belum pulang” Ucap Bobby dingin.

“Baguslah kalau kau tak mencemaskanku, karena aku tak sudi dicemaskan oleh orang sepertimu” Bentak Nadya dan melanjutkan langkahnya.

“Kita putus..!” Ucap Bobby  dengan nada suara yang sudah netral, menatap punggung Nadya yang sudah beberapa langkah di depannya.

Nadya terdiam, tak berbalik sedikitpun. Air matanya kembali tumpah akibat pria yang sama. Tak ingin terlihat lemah di depan Bobby, ia pun melanjutkan langkahnya kembali.

Nadya masuk ke dalam rumah, melihat Ibu tirinya menatapnya tajam di ruang tamu.

“Angkat celanamu!” suruh wanita itu.

“Akkh... akhh..” Teriak Nadya kesakitan. Namun wanita itu kembali mencampuknya entah sudah berapa banyak, sehingga sekarang kedua kaki Eunrin sudah penuh dengan darah yang mengalir hingga kelantai.

“Nyonya, sudah... sudah...” Ucap seorang wanita paruh baya.

“Kau ingin di pecat, pembantu sialan!” Ucap Wanita itu kepada si pembantu.

“Kau, bawa dia kekamarnya” Suruh wanita itu kepada pembantu tadi setelah dia puas dengan aksi brutal nya.

Darah yang ada di kaki Nadya tetap mengalir di sepanjang lantai yang dilewatinya. Sampailah mereka ke kamar Nadya.

“Sabar ya Non” Ucap Bibi tersebut sambil mengobati bekas luka di seluruh kaki Nadya.

“Bik, kenapa menghubungi Bobby?” Tanya Nadya.

“Bibi tidak tahu harus minta bantuan siapa lagi” Ucap Bik Inem.

“Untuk kedepannya, jangan hubungi dia lagi, kami sudah putus” Ucap Nadya menahan air matanya.

“Aku rasa Ibu tak akan berhenti menyakiti kakiku, selama kakiku masih tetap ada” Ucap Nadya lemah

“Non, jangan berkata seperti itu”

“Aku benar-benar sudah tidak kuat, kakiku seperti tak ada rasa dan kekuatan lagi”

‘Hiks hiks hiks...’

“Bi, kenapa menangis? Aku saja tak menangis” Ucap Nadya menenangkan Bik Inem.

Seorang perempuan lain keluar pagar dan mendapati seorang pria sedang berdiri menatap kearah rumah.

“Pak Bobby, atasan mbak Nadya bukan?” Tanya gadis itu.

“Mbak Nadya baru saja pulang, sekarang ia sedang istirahat, ada apa Pak?”

“Aku ingin menanyakan sesuatu tentang pekerjaan, dia assiten saya ” Ucap Bobby mencari alasan.

“Masuklah Pak” Ajak gadis remaja itu.

“Tidak usah, lagian sudah sangat larut” Pamitnya kepada Laura adik Nadya.

Hari ini setelah mengumpulkan kekuatan ia pergi ke kantor, ia ingin kesana karena ingin mengajukan surat pengunduran dirinya, menurutnya ia sudah tidak sanggup lagi untuk bekerja di perusahaan tersebut terlebih di sana ada Bobby, pria yang sangat ingin ia hindari.

Nadya membuka pintu berlahan, dan yang di dalam ruangan itu hanya ada satu orang, Mas Kevin atasan tertinggi mereka.

“Mengapa akhir-akhir ini kau sangat jarang masuk, ada apa sebenarnya?”

Nadya kemudian menyodorkan sebuah amplop, Kevin melihatnya sedikit heran, kemudian membaca tulisan di kertas dalam amplop tersebut.

“Pengunduran diri?” Ucap Kevin tak percaya.

“Kenapa?”

“Aku hanya ingin istirahat”

“Kau bisa mengambil cuti” saran Kevin.

“Tidak, aku ingin berhenti” Ucap Nadya tegas.

“Baiklah, itu keputusanmu, sekalipun kau tidak berkerja di perusahaan ini lagi, sering-seringlah main kesini, kau sudah ku anggap adik sendiri, jika ada masalah katakan saja, semampunya akan Mas bantu” Ucap Kevin lembut.

“Baik Mas, kalau begitu aku ingin pamit dulu” Ucap Nadya

Nadya sampai di ambang pintu, kemudian ia berbalik lagi.

“Mas, bolehkan aku memelukmu” Pinta Nadya.

“Sini” Ucap Kevin melebarkan tanggannya.

Nadya menghambur kepelukan Kevin, membuat ia se-nyaman mungkin dengan suasana itu. Ia menggagap Kevin seperti abangnya sendiri, di tambah Kevin adalah sahabat dari almarhum abangnya.

“Maaf..” Sebuah suara kaget menghentikan Nadya memeluk Kevin..

“Maaf, aku kira kosong” Ucap pria itu, dan kemudian keluar.

“Aku pamit Mas” Ucap Nadya pada Kevin. Nadya meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju kepintu keluar. Namun tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang, yang membuatnya terkejut.

“Apa yang kau lakukan dengan Kevin, huh?” Tanya pria tadi.

“Apa urusanmu” Ucap Nadya

“Perempuan mana yang mau di peluk sembarangan seperti itu! Perempuan murahan?”

Degg...

---bersambung


Artikel Terkait

Viewer : 61