Cerita2D, Cerpen, Romance

TITIP (Part 2)


TITIP (Part 2)

Karena kau hanya menitipkan kenangan, bukan meninggalkan

Suatu saat ambillah kenangan ini kembali.

(Sebelumnya: TITIP (part 1))

Malam telah tiba dan aku masih dalam kerinduan. Malam seolah-olah mengerti.

Karena malam pun terkadang merindukan bintang, begitu pun denganku.

Aku tidak merasa dirimu jauh. Kau dekat denganku saat ini, karena kau selalu ada di hati.

Setiap hari aku bermimpi tentangmu. Berharap bisa menjemputmu dari mimpi dan memelukmu di dunia nyata.

Jika hati ini tidak mampu membendung segala kerinduan, tidak ada yang bisa aku lakukan selain mendoakanmu.

Mungkin saat ini aku hanya bisa menahan kerinduan ini. Tapi aku percaya kau akan kembali lagi dan aku yakin kau pasti merindukanku juga. Karena aku merasa kebersamaan yang kita lalui itu sangat bermakna setelah aku merasa kehilangan seperti ini.

Apakah kau merasakan hal yang sama denganku? Aku harap iya.

Aku pergi ke bukit kita bertemu pertama kali dengan harapan melihatmu lagi walaupun cuma bayanganmu saja.

Setelah sampai aku tidak melihatmu di bukit bahkan bayangmu juga tidak ada.

Aku menunggu senja datang. Aku menirukan caramu melihat matahari.

Memejamkan mata sebentar untuk merasakan hangat sinarnya.

Membuka mata kembali untuk tersenyum. Ternyata mengikuti caramu melihat matahari membuatku menjadi tenang.

Aku pulang karena senja telah hadir.

Senja menggiring keceriaan menuju kegelapan. Namun aku selalu menyeka air mata untuk dapat melihat bintang.

Aku mulai menulis tentang dirimu sampai larut malam. Tentang kau yang seperti senja, terasa menyenangkan namun tak bertahan lama.

Pagi datang, matahari terbit memberi semangat untuk jiwa yang dingin ini.

Namun sayang, langit sebelah sana mendung. Mendung itu berada di bukit tempat aku melihatnya pertama kali. Ada apa di sana? Apakah ada yang bersedih? Aku pergi kesana dan hujan benar-benar turun di sini.

Aku berlari di tengah hujan dan berhenti di tempat kami pernah berteduh.

Sekali lagi, aku teringat tentangnya, tentang wanita cantik yang aneh, yang bisa menghilang dalam sekejab, yang menitipkan kenangan kepadaku.

Andai dia tahu, sebanyak-banyaknya air hujan yang turun tidak kalah banyaknya dengan rasa rindu ini kepadamu.

Hujan berhenti, Bukan berarti rindu ini telah habis. Aku pergi ke bukit untuk melihat matahari terbenam lagi untuk menyempurnakan rasa rindu ini.

Dan masih berharap berjumpa dengannya.

Sesampai di sana aku tidak melihatnya namun pelangi sehabis hujan kali ini muncul untuk menghibur.

Harapan yang mustahil ini membuatku bertindak bodoh. Akan tetapi rasa percaya tetap ada karena aku yakin dia akan kembali untuk mengambil titipan kenangan ini lagi dan mengulangi kenangan manis itu bersama diriku lagi.

Aku melanjutkan melihat pelangi dan matahari untuk membuatku tenang.

“Terima kasih telah menyambut kedatanganku kembali ke desa ini. Sekian lama aku tidak pernah melihat binar cahaya romantismu itu, kini dengan keadaan yang lesuh aku memandangmu dengan penuh bahagia.” Ucap wanita itu tiba-tiba muncul dari belakang.

Dia benar-benar kembali dan mengambil titipan kenangan manis tersebut.

Dia tertawa melihatku duduk disini sendirian. Dia mengobati semua kerinduanku selama ini.

Dan akhirnya, aku bisa melihat caranya memandangi matahari lagi.

“Duduklah sejenak, aku akan suguhkan senja keemasan dan similir angin untuk kita.” Ucapku dengan senang.

Dia tersenyum dan memeluk badan ini. Dia berkata kalau ingin mengulangi kenangan yang dia titip dan ingin tinggal di sini untuk selamanya.

“Walaupun aku bukan senja yang sering kau tunggu, namun aku adalah langit yang siap menemani hari-harimu.”

 

-TAMAT-

 


Artikel Terkait

Viewer : 21