Cerita, Cerpen, Drama, Cerita2D

TITIP


TITIP

Wanita yang ada di bukit itu sangat cantik.

Aku melihatnya dari bawah sini sambil tersenyum.

Dia memandangi matahari terbenam dan melambai ke arahku.

Aku datang untuk berjumpa dengannya.

Ternyata benar, dia benar-benar cantik sekali.

    “Kau siapa? Kenapa ada di atas bukit ini?” Tanyaku.

    “Aku tersesat, aku kesini hanya untuk melihat matahari terbenam dan meminta doa.” Jawabnya.

Entah dari mana wanita ini berasal aku tidak tahu. Apa ini titipan tuhan untukku? Tapi aku rasa dia gadis dari kota yang tersesat.

Lalu wanita cantik itu melihat matahari yang terbenam lagi.

Aku suka caranya melihat matahari. Aku suka dia merasakan hangatnya sinar di akhir senja.

Senja membawa keindahan begitu pula dengan wanita yang satu ini.

Hari mulai gelap, aku menawarkan wanita itu untuk tinggal di desa kami dan dia mau.

Aku  senang sekali  bisa menghabiskan waktu bersamanya sambil menunggu pertolongan datang untuk menjemputnya.

Akan kuajak dia menikmati keindahan desa kami.

Sesampai di desa, kami disambut  karena aku membawa wanita ini dan banyak yang bertanya-tanya.

Kepala suku menyuruhku untuk menjaganya dan memberikan dia tumpangan untuk tinggal sementara.

Sebelum tidur kami bercerita di depan api unggun.

Dia menceritakan bahwa alam semesta adalah segalanya. Dia ingin berpetualang denganku besok.

Dan dia senang karena aku bersedia menemaninya.

Keesokan harinya, pagi telah hadir seperti mengajak wanita itu untuk menikmati keindahan alam.

Kami melaju bersama angin, membuka jendela alam dan melambaikan tangan.

Hujan tiba, kami berjalan di bawah hujan. Kami basah dan kami menetawakannya.

Kami berteduh ditemani semilir angin. Membuat kami terjaga sepanjang hujan.

Kemudian dia menulis semua yang telah dilaluinya. Dia senang akan pengalaman hari ini.

Aku suka tawanya dan semuanya. Hati kami tumbuh bermekaran.

Aku sangat mencintai wanita ini, aku ingin dia selamanya berada di sini.

Dan hujan pun berhenti, matahari yang sembunyi akhirnya keluar dari persembunyiannya.

Dia ingin pergi ke bukit semalam untuk melihat matahari terbenam lagi.

Lalu, kami berdansa di atas bukit dan sore pun mengabarkan kedatangannya.

Dia bercerita ingin pulang, berterima kasih padaku, mengatakan akan kembali, memalingkan wajah dan hilang begitu saja.

Benar-benar hilang dalam sekejap saja.

Menitipkan seluruh  kenangan manis dalam sehari.

Ingatan mengukir cerita di dalam hati.

Aku berhenti sampai di sini dan membiarkan semuanya.

Aku harusnya senang.

Suatu hari aku yakin kau akan jatuh di susunan lenganku.

Karena kau hanya menitipkan kenangan, bukan meninggalkan.

Suatu saat nanti ambillah kenangan ini kembali.

 

Bersambung..

Artikel Terkait

Viewer : 73